TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Scala Vs. Python, Mana Bahasa Pemrograman yang Lebih Efektif?

Scala bersifat statis, sedangkan Python dinamis

ilustrasi coding (pexels.com/olia danilevich)

Scala dan Python adalah dua bahasa pemrograman yang kuat yang banyak digunakan untuk berbagai aplikasi. Mereka memiliki beberapa kesamaan, seperti bahasa pemrograman tingkat tinggi, tetapi mereka juga memiliki beberapa perbedaan mencolok.

Baik kamu seorang pemula atau pengembang berpengalaman, artikel ini akan memberimu memahami tentang perbedaan utama antara Scala dan Python. Tentunya, ini akan membantumu dalam membuat keputusan tentang bahasa mana yang akan digunakan dalam proyekmu berikutnya. So, check it out!

1. Sintaksis Scala bersifat statis, sedangkan Python bersifat dinamis

ilustrasi coding (pexels.com/cottonbro)

Menurut streamsets.com, Scala adalah bahasa bertipe statis, artinya variabel harus dideklarasikan dengan tipe tertentu, misalnya integer, string, dll. Hal ini membantu dalam menangkap kesalahan lebih awal selama proses kompilasi.

Selain itu, sintaksis Scala dipengaruhi oleh Java yang memiliki sintaks lebih kompleks dan bertele-tele daripada Python. Misalnya, di Scala, kamu perlu menentukan tipe data variabel secara eksplisit.

Python adalah bahasa yang diketik secara dinamis, yang berarti bahwa variabel dapat mengambil jenis apa pun saat runtime. Ini membuat sintaksis Python lebih fleksibel dan mudah dibaca.

Sintaks Python juga relatif sederhana dan mudah dipelajari sehingga menjadikannya pilihan bagus untuk pemula. Sintaksis berbasis indentasi Python memudahkan untuk memahami struktur kode dan alur program. Interpreter dapat menyimpulkan tipe data berdasarkan nilai yang diberikan ke variabel.

2. Performa penafsiran bahasa Scala lebih cepat daripada Python

ilustrasi coding (pexels.com/Nemuel Sereti)

Scala adalah bahasa yang dikompilasi, yang artinya diterjemahkan ke dalam kode mesin sebelum dieksekusi. Ini bisa membuatnya lebih cepat daripada bahasa yang ditafsirkan seperti Python, tetapi itu juga berarti perlu waktu lebih lama untuk memulai program Scala. Hal ini membuat Scala menjadi pilihan yang baik untuk aplikasi skala besar yang sangat penting bagi kinerja.

Python adalah bahasa yang ditafsirkan, yang artinya dieksekusi baris demi baris saat runtime. Hal ini bisa membuatnya lebih lambat daripada bahasa yang dikompilasi seperti Scala, tetapi juga lebih fleksibel dan lebih mudah untuk di-debug.

Sifat interpretasi Python menjadikannya pilihan tepat untuk membuat prototipe dan proyek skala kecil. Selain itu, Python memiliki banyak pustaka dan kerangka kerja yang meningkatkan kinerja dan skalabilitasnya, seperti NumPy, pandas, dan scikit-learn untuk ilmu data dan pembelajaran mesin.

Baca Juga: 5 Manfaat yang Didapatkan dari Belajar Coding dan Pemrograman

3. Pemrograman orientasi objek Python lebih fungsional dan tidak seketat Scala

ilustrasi coding (pexels.com/Antonio Batinic)

Scala adalah bahasa berorientasi objek murni, yang berarti bahwa semua nilai adalah objek dan semua operasi dilakukan pada objek. Hal ini membuat OOP Scala lebih konsisten dan dapat diprediksi karena semua nilai memiliki perilaku dan properti yang sama.

Python adalah bahasa multi-paradigma yang mendukung pemrograman berorientasi objek dan fungsional. Hal ini membuat kode Python dapat ditulis dengan gaya yang lebih fungsional sehingga mempermudah penalaran dan pengujian. Selain itu, OOP Python tidak seketat Scala dan memungkinkan pengembang untuk menggunakan gaya pemrograman berbeda dalam basis kode yang sama.

4. Stabilitas kode dan organisasi Scala lebih mudah menangkap bug

ilustrasi coding (pexels.com/Nimit Kasagra)

Dalam hal menemukan kesalahan, Scala sedikit lebih ketat dengan pengetikan statisnya yang dapat memudahkan untuk menemukan kesalahan sejak awal selama proses kompilasi. Satu manfaat tambahan dari Scala adalah karena ini adalah bahasa yang diketik dengan kuat, editor kode dapat membuat saran berdasarkan kesalahan kompiler sehingga kamu lebih mungkin menangkap bug sebelum runtime.

Di sisi lain, pengetikan dinamis Python dapat membuatnya lebih rentan terhadap bug saat perubahan dilakukan pada kode. Python dapat memiliki kemampuan yang sama jika kamu menggunakan petunjuk tipe dan pemeriksa petunjuk tipe, tetapi hal itu tidak umum.

5. Platform Scala terbatas pada produk JVM, sedangkan Python bisa dieksekusi dalam berbagai platform

ilustrasi coding (pexels.com/Mikhail Nilov)

Melansir netguru.com, Scala didasarkan pada JVM, jadi kode sumbernya dikompilasi ke kode byte Java sebelum dieksekusi oleh JVM. Oleh karena itu, Scala tersedia untuk semua platform yang didukung oleh JVM yang mencakup platform yang sama yang terdaftar untuk Python. Untuk Scala JVM, JavaScript, atau LLVM, kedua bahasa memerlukan alat yang berbeda untuk dijalankan, tetapi juru bahasa Python dan JVM tersedia pada platform paling populer.

Python berjalan pada juru bahasa khusus yang tersedia untuk berbagai platform, termasuk antara lain, Windows, macOS, dan sistem mirip Unix modern lainnya. Kamu memerlukan juru bahasa Python untuk menjalankan program Python.

Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Python Jadi Bahasa Pemrograman Terpopuler

Verified Writer

Kazu Zuha

Hanya seorang anak SMK yang menyukai pelajaran SMA. Cenderung seperti bunglon, bisa menjadi Kpopers, Wibu, Agamis, Anak Sosiologi, Anak Politik, dan lain lain sesuai situasi dan kondisi hehe

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya