TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Seputar Sportswashing, Pernah Terjadi Juga di Olimpiade

Pernah digunakan Nazi dalam Olimpiade 1936 #Olimpiade2024

pertandingan sepak bola Piala Dunia Qatar 2022 antara Iran dan Wales (commons.wikimedia.org/Hossein Zohrevand)

Intinya Sih...

  • Olahraga dan politik saling terkait erat, seperti kasus sportswashing yang digunakan oleh beberapa negara untuk mengalihkan perhatian dari isu kemanusiaan.
  • Contoh sportswashing terjadi pada Olimpiade Musim Panas 1936 di Berlin yang diselenggarakan oleh Adolf Hitler sebagai alat propagandanya.
  • Negara seperti Rusia, Arab Saudi, dan Qatar menggunakan acara olahraga bergengsi untuk kepentingan politik dan menyembunyikan pelanggaran hak asasi manusia.

Tanpa kamu sadari, politik dan olahraga sebenarnya saling terkait erat. Olahraga bisa dibilang sebagai alat untuk menyampaikan pesan, seperti memamerkan kekayaan, kekuatan, dan keterampilan suatu negara di lapangan. Keberhasilan suatu negara dalam bidang olahraga merupakan unjuk kekuatan dan juga dominasi.

Rusia, misalnya, pernah dilarang mengikuti kompetisi internasional karena tersandung skandal doping yang disponsori Rusia dan terungkap pada 2016. Itu mengapa, olahraga punya pengaruh besar terhadap politik di Rusia. Hal ini juga didukung dengan keberhasilan Rusia dalam menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin 2014 yang diadakan di Kota Sochi, Rusia.

Namun, tahukah kamu tentang apa itu sportswashing di mana olahraga digunakan untuk kepentingan tertentu, terutama politik? Tambah pengetahuan dengan menandaskan artikel ini, yuk!

1. Istilah sportswashing memang baru, tapi konsepnya sudah ada sebelum Perang Dunia I

ilustrasi stadion (unsplash.com/Liam McKay)

Sportswashing bisa terjadi ketika suatu negara menjadi tuan rumah atau berpartisipasi dalam acara olahraga bergengsi. Namun, ada udang di balik batu. Beberapa negara yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan kompetisi olahraga punya tujuan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu lain yang bersifat kemanusiaan, seperti pelanggaran hak asasi manusia.

Istilah sportswashing menarik banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi karena beberapa negara menggunakan acara besar, seperti Olimpiade atau Piala Dunia FIFA, agar dipandang baik, seperti stadion dan gelanggang olahraga baru yang dibangun dengan mencolok dan megah. Bisa juga dari kesuksesan pertandingan olahraga itu sendiri. Nah, dengan begitu, mata seluruh dunia akan fokus pada sesuatu yang positif (penyelenggaraan kompetisi olahraga) ini.

Istilah sportswashing sendiri dipopulerkan oleh Amnesty International pada 2018. Namun, gagasan sportswashing sudah ada sejak lama. Salah satu contoh sportswashing sudah ada sekitar 80 tahun lalu, bahkan sebelum istilah tersebut ada. Sportswashing pada masa itu terjadi ketika dunia sedang menuju Perang Dunia II dan Adolf Hitler menyelenggarakan Olimpiade Musim Panas 1936 di Berlin sebagai salah satu alat propagandanya.

Baca Juga: 8 Drakor Tentang Perjuangan Atlet, Cocok Ditonton Pas Olimpiade 2024!

2. Nazi memanfaatkan Olimpiade Musim Panas 1936 sebagai bentuk propagandanya

peraih medali tim senam artistik putra di Olimpiade Musim Panas 1936 di Berlin (commons.wikimedia.org/Koncern Ilustrowany Kurier Codzienny/Archiwum Ilustracji)

Partai Nazi naik ke tampuk kekuasaan di Jerman pada 1933. Pada 1936, rezim Adolf Hitler ini mulai memamerkan kekuatan Reich Ketiganya kepada dunia. Di momen inilah mereka jumawa menunjukkan keunggulan ras Arya.

Di sisi lain, Jerman punya catatan mengerikan terkait pelanggaran hak asasi manusia. Tiga tahun sebelum Olimpiade Musim Panas 1936, Adolf Hitler mengeluarkan dekrit yang melarang Partai Komunis di Jerman dan menghapuskan hak asasi manusia di negara tersebut. SciencesPo melansir kabar bahwa hal ini merupakan tindakan Nazi untuk menyingkirkan oposisi politik di Jerman. Kendati demikian, sebagian besar dunia masih mau berkumpul di Berlin untuk Olimpiade Musim Panas 1936.

Olimpiade Musim Panas 1936 merupakan perhelatan dan besar-besaran dalam segala aspek. Hitler juga menggunakan film untuk membentuk narasi seputar Olimpiade, khususnya, dan Nazi Jerman, secara umum. Leni Riefenstahl, sutradara yang terkenal dengan film propaganda berjudul Triumph of the Will (1935), menggarap film berjudul Olympia (1938) yang mendokumentasikan pertandingan Olimpiade Musim Panas 1936 di Berlin. Selama bertahun-tahun sejak itu, film Olympia digadang-gadang sebagai salah satu film olahraga terhebat yang pernah dibuat. Namun, beberapa pengamat melihat film tersebut tidak lebih dari sekadar mesin propaganda Nazi.

Untungnya, upaya Nazi untuk mencemarkan nama baik olahraga berhasil digagalkan oleh pelari cepat dan pelompat asal Amerika Serikat bernama Jesse Owens. Ia memenangi empat medali emas di kandang Hitler. Hal ini pun sempat menghambat propaganda yang dibuat oleh diktator keji Jerman tersebut.

3. Sportswashing di Arab Saudi

olahraga motor di gurun Riyadh, Arab Saudi (commons.wikimedia.org/Stourism)

Sebagaimana yang dijelaskan The Guardian, pada 2016, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengumumkan rencananya yang disebut Vision2030. Ini adalah rencana untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Arab Saudi pada minyak. Vision2030 juga menawarkan perubahan positif dari perspektif sosial.

Namun, upaya tersebut mengarah pada serangkaian kebijakan yang mencoreng catatan hak asasi manusia oleh Kerajaan Arab Saudi, yaitu tindakan keras terhadap mereka yang punya pandangan berlawanan, seperti feminisme dan pemimpin agama. Jurnalis juga menjadi sasaran. Kasusnya yang paling terkenal adalah pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Salah satu bagian utama dari rencana Vision2030 ala Mohammed bin Salman ini adalah anggaran besarnya yang mencakup miliaran dolar. Anggaran sebesar ini digelontorkan demi diselenggarakannya acara olahraga bergengsi di Arab Saudi. Sebuah laporan tahun 2021 dari organisasi hak asasi manusia Grant Liberty, mengungkapkan bahwa Arab Saudi telah menghabiskan lebih dari 1,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp24 triliun untuk sportswashing ini. Nah, yang lebih mengejutkannya lagi, Arab Saudi mengeluarkan 664 juta dolar AS atau setara dengan Rp10,6 miliar untuk mendatangkan acara olahraga motor, seperti Formula E dan Reli Dakar. Kesepakatan selama 10 tahun dengan Formula 1 untuk menggelar Grand Prix Arab Saudi sendiri saja sudah menelan biaya sebesar 650 juta dolar AS atau setara dengan Rp10,4 miliar. 

4. Qatar dan sportswashing dalam Piala Dunia FIFA 2022

pertandingan sepak bola Piala Dunia Qatar 2022 antara Iran dan Wales (commons.wikimedia.org/Hossein Zohrevand)

Piala Dunia FIFA 2022 sangat kontroversial sejak pertama kali diumumkan pada 2010. Turnamen ini merupakan edisi pertama Piala Dunia yang diadakan di Timur Tengah. Masalah utama yang muncul adalah cuaca panasnya yang menyengat selama musim panas. Akibatnya, Piala Dunia edisi ini diundur ke akhir tahun ketika suhu lebih sejuk.

Sebagaimana yang dilaporkan The New York Times, Qatar diduga menyuap pejabat FIFA untuk menjadi tuan rumah pertandingan. Kasus ini juga diduga dilakukan Rusia dalam perjalanannya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Di samping itu, terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia menimbulkan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.

Tak hanya itu, demi lancarnya penyelenggaraan Piala Dunia, Qatar melakukan pembangunan besar-besaran menjelang Piala Dunia yang mencakup pembangunan tujuh stadion baru dan banyak proyek infrastruktur lainnya. The Guardian melaporkan bahwa 6.500 pekerja migran, terutama dari India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, dan Sri Lanka, meninggal dunia sejak persiapan Piala Dunia dimulai. Dilaporkan bahwa 37 dari kematian tersebut terkait langsung dengan pembangunan stadion baru untuk Piala Dunia Qatar.

Verified Writer

Amelia Solekha

Write to communicate

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya