TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Rusia Tuduh Barat Gerakkan Kudeta di Georgia

Sebut Barat akan mengupayakan demo Maidan di Georgia

tampak depan gedung Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow (twitter.com/mfa_russia)

Intinya Sih...

  • Wakil Menlu Rusia menuduh AS dan UE berupaya kudeta di Georgia, ingin menggulingkan pemerintahan Partai Georgian Dream.
  • Rusia mendukung RUU anti-agen asing yang ditentang Barat dan warga Georgia, menyebut Barat ikut campur urusan dalam negeri Georgia.
  • AS siap memberikan sanksi kepada individu yang merusak demokrasi di Georgia, termasuk pembatasan visa terhadap rakyat Georgia.

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Mikhail Galuzin menuduh Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) berupaya menggerakkan kudeta di Georgia. Ia menganggap Barat berniat menggulingkan pemerintahan Partai Georgian Dream. 

Rusia selama ini mendukung penuh penerapan RUU (Rancangan Undang-Undang) anti-agen asing yang ditentang Barat dan warga Georgia. Moskow juga berulang kali menyebut bahwa kebijakan tersebut berasal dari AS dan menganggap Barat berniat ikut campur urusan dalam negeri Georgia. 

Baca Juga: Meski Diveto, Parlemen Georgia Kekeh Sahkan RUU Anti-Agen Asing

1. Tuding Barat ingin memanaskan situasi di sekitar Rusia

ilustrasi bendera Georgia (pexels.com/@gy1610)

Galuzin mengklaim bahwa Barat kemungkinan besar sedang merencanakan penggulingan pemerintahan menjelang pemilu parlementer di Georgia. Ia menyebut Barat terus membuat situasi di negara Kaukasus Selatan itu panas. 

"Kami melihat Barat berupaya mengeskalasi tensi di Georgia dalam konteks pemilu parlementer yang akan digelar pada Oktober tahun ini," terang Galuzin pada Selasa (4/6/2024), dikutip The Moscow Times

"Kita tidak dapat mengelak bahwa tujuan mereka adalah menciptakan skenario yang mirip dengan Maidan di Ukraina. Mereka ingin mengubah rezim dan menciptakan tensi negara sekitar Rusia," tambahnya. 

Ia menambahkan bahwa AS dan UE terus menekan negara lain di tengah penetapan hukum anti-agen asing. Ia menyebut bahwa AS juga memiliki hukum seperti itu dan justru lebih ketat dibandingkan yang ada di Georgia. 

2. Tuduh Barat hipokrit karena tolak UU anti-agen asing

Ia mengecam sebutan UU (Undang-Undang) transparansi pengaruh asing tersebut sebagai sebuah pengrusakan demokrasi di Georgia. Galuzin mengklaim bahwa AS dan UE hipokrit karena mengatakan hal tersebut. 

"Brussels dan Washington terus menyuarakan tuduhan hipokrit terkait pengrusakan demokrasi dan larangan dalam mengikuti nilai-nilai Eropa dan Euro-Atlantik, serta ancaman sanksi individu hingga pemblokiran aksesi Georgia di UE," terangnya, dikutip Tass

Galuzin juga mengungkapkan kritikan terhadap rencana keikutsertaan Menlu Lithuania, Estonia, dan Islandia dalam protes di Tbilisi pada pertengahan Mei. 

"Ini sulit digambarkan bahwa ini bukanlah sebuah ikut campur terhadap urusan dalam negeri sebuah negara merdeka. Ini adalah contoh buruk dari praktik neo-kolonialisme untuk mengurangi dan membatasi kedaulatan negara lain," sambungnya. 

Baca Juga: Ukraina Protes Pernyataan Tidak Bersahabat PM Georgia

Verified Writer

Brahm

-

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya