TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Kiat Media di Asia Tenggara Bertahan Pasca Pandemik COVID-19

Media sosial jadi andalan, juga transformasi digital

CEO & Founder Frontier Myanmar, Sonny Swe (IDN Times/tangkapan layar webinar)

Balikpapan, IDN Times - Pandemik COVID-19 memukul berbagai sisi kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan dan sektor lainnya. Dunia media di Asia Tenggara pun tak luput terkena dampak signifikan akibat wabah ini.

Belum lagi harus menghadapi tantangan saat ini, di mana media sosial juga makin dominan dalam kehidupan masyarakat. Media arus utama pun harus mencari cara untuk terus bertahan. Dalam acara Webinar Women in News, Safe and Sustainable Media in the Post-Pandemic Era, yang diselenggarakan Women in News dan WAN-INFRA, Jumat (4/3/2022), sejumlah pimpinan dan perwakilan media di Asia Tenggara berbagi cerita mengenai kondisi mereka.

Co-Founder/COO Katadata, Ade Wahyudi, mengatakan di Indonesia sosial media menjadi sumber utama bagi publik untuk mendapatkan informasi. “Jika digali lebih dalam sumber data utama adalah WhatsApp,” ujarnya 

Artinya, media arus utama kini mulai tergeser posisinya. Padahal, WhatsApp juga potensial menjadi sarana penyebaran berita hoaks. Menurut data Digital Literasi Index 2021 sosial media menempati posisi pertama sumber informasi masyarakat, yakni sebanyak 73 persen. Sementara di posisi kedua pilihan sumber informasi adalah TV (59,7 persen), dan online Media (26,7 persen).  

Pada survei yang melibatkan 10 ribu responden tersebut, televisi masih menempati urutan pertama sumber informasi yang paling dipercaya masyarakat (47 persen), disusul media sosial (22,4 persen), dan pemerintah (17,9 persen). “Konten berkualitas dan kredibilitas masih sangat penting untuk media,” kata Ade Wahyudi.

Baca Juga: Ini Cara IDN Times Beradaptasi dalam Transformasi Digital 

Media Myanmar harus menghadapi junta militer

Pihak oposisi Myanmar merasa kehilangan kepercayaan kepada ASEAN dalam mengatasi masalah krisis di Myanmar. (Twitter.com/kzy_linn)

Sementara itu, para jurnalis di Myanmar mengalami situasi yang lebih pelik. Tak hanya karena pandemik COVID-19 tetapi juga masalah politik Myanmar yang dikuasai militer. CEO & Founder Frontier Myanmar, Sonny Swe mengatakan, para jurnalis seringkali harus berpindah tempat, bersembunyi, dan melarikan diri. Bahkan, ia dan timnya terpaksa meninggalkan negaranya menuju Chiang Mai, Thailand. Walau berpindah ke negara lain tak mudah bagi mereka, keamanan adalah prioritas.

Ia menuturkan, pemadaman listrik dan internet di Myanmar membuat mereka kesulitan menghubungi narasumber di negara itu. Mereka terpaksa kontak via telepon dengan biaya roaming yang mahal. Meskipun tak mudah, Sony mengatakan, “Saya ingin membangun komunitas, jurnalisme yang bertanggung jawab menjadi visi kami."

Ia pun mengaku senang sudah hijrah dari media cetak menjadi murni digital yang menurutnya menjadi satu cara bertahan di tengah pandemik dan situasi politik di Myanmar. Frontier Myanmar juga memiliki beberapa produk jurnalistik yang berbasis membership dengan segmentasi khusus. Uang keanggotaan ini bahkan mampu membiayai hingga 50 persen pengeluaran media mereka. “Ketahui siapa audience-mu dan berikan apa yang mereka inginkan dan perlukan,” ujar Sonny.  

Transformasi digital di Vietnam

Ilustrasi transformasi digital (Shutterstock/Wright Studio)

Berbeda lagi dengan kisah media di Vietnam yang juga mengalami masalah akibat pandemik COVID-19. Pham Quynh Trungonny, Head of International Desk Tuoi Tre Newspaper menuturkan, “Kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan media di Vietnam yakni menurunnya pendapatan akibat berkurangnya iklan, COVID-19 membawa dampak pada kesehatan dan skill pada jurnalis. Selain itu, konten berita dibayang-bayangi oleh COVID-19."

Meskipun begitu, perusahaan media tempatnya bekerja tetap bertahan karena memiliki beberapa aset potensial, yaitu mereka memiliki staf redaksi dan jurnalis yang berbakat serta kepemimpinan yang baik. Mereka juga melakukan transformasi digital, dan meningkatkan interaksi di media sosial, serta mengembangkan media berlangganan.

Hal ini menurut Pham Quynh Trungonny tidak mudah karena orang biasanya tidak mau membayar untuk mendapatkan berita. Tetapi, ia tetap optimistis dengan menyajikan karya jurnalistik yang berkualitas tinggi maka orang akan rela membayar.

Baca Juga: FJPI Kutuk Keras Peretasan Akun Media Sosial Ketum AJI

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya