TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Anak Korban Penganiayaan Orang Tua Asuh di Cilincing Tak Ada Identitas

Ekonomi ibu atau pun kakek korban tergolong tak mampu

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak (KemenPPPA) Nahar usai Peringatan Hari Perempuan Internasional 2024 'Dialog dan Peluncuran Laporan RAN P3AKS 2014-2023' di Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2024). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Jakarta, IDN Times - Dua anak korban kekerasan fisik oleh orang tua asuh di Cilincing, Jakarta Utara, ternyata belum memiliki identitas resmi, seperti akta lahir atau kartu keluarga.

Diketahui, korban meninggal yang masih berusia satu tahun, MFW, dan kakaknya, RC 4 tahun, jadi korban kekerasan dari pengasuh AA dan TA yang merupakan pasangan suami istri.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Nahar, menjelaskan karena kondisi ini anak kesulitan mengakses bantuan jaminan kesehatan dari pemerintah daerah.

"Seperti diketahui bahwa untuk perawatan kesehatan bagi korban kekerasan fisik tidak bisa ditanggung oleh BPJS, sementara jika dilihat dari kondisi ekonomi ibu korban atau pun kakek korban tergolong keluarga tidak mampu," kata dia dalam keterangannya, Jumat (20/9/2024).

1. Hak atas identitas harus diupayakan

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar di Festival ekspresi anak di Ancol, Jakarta utara "Anak Terlindungi, Indonesia Maju: Anak Cerdas, Berinternet Sehat" sebagai rangkaian Hari Anak Nasional yang digelar KemenPPPA, Kamis (18/7/2024). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Kemen PPPA mengambil langkah cepat dengan memfasilitasi seluruh biaya perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Said Sukanto. Karena jika dilihat dari kondisi ekonomi ibu atau pun kakek korban, tergolong keluarga tidak mampu.

Nahar, perwakilan dari Kemen PPPA, mengingatkan pentingnya kepemilikan identitas bagi anak-anak.

"Sebab, selain memberikan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, memastikan anak mendapatkan hak-hak mereka juga harus diupayakan salah satunya adalah hak atas kepemilikan identitas," ungkap Nahar.

Baca Juga: Bayi Korban Penganiayaan Orang Tua Asuh di Cilincing Akan Diautopsi

2. Dititipkan ibu kandung yang bekerja di Papua

Ilustrasi kekerasan. (IDN Times/Nathan Manaloe)

Perlu diketahui, kedua kakak beradik ini dititipkan ibunya kepada terlapor berinisial AA dan TA yang merupakan kenalan ibu korban, dikarenakan ibu korban harus bekerja di Papua. Balita MFW yang masih berusia satu tahun mengalami koma, namun akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada 17 September 2024.

Sementara, untuk kondisi anak korban yang lain yakni sang kakak berinisial RC diketahui berada dalam kondisi yang sangat baik. Namun masih membutuhkan pemulihan secara psikologis secara berkala. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) akan melakukan otopsi pada jenazah bayi MFW.

Baca Juga: Tumpahkan Air Susu, 2 Bocah di Jakut Disiksa Ibu Tiri hingga Kejang

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya