TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

3 Miskonsepsi Frasa 'No Pain No Gain' Bikin Kamu Gak Menikmati Proses

Benarkah harus menderita dulu baru sukses?

ilustrasi memikirkan masalah (pexels.com/olly)

Frasa ‘No Pain, No Gain’ telah menjadi semacam mantra dalam dunia motivasi. Kamu mungkin sering mendengarkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di dunia kerja, di gym dan juga dalam proses untuk mewujudkan mimpi. Kalimat ini kerap diulang-ulang untuk membakar semangat agar kamu bisa mengatasi masalah dan tantangan yang dihadapi.

Namun, di balik kegigihan dan semangat yang terkandung dalam frasa ini, terdapat miskonsepsi yang dapat mengubah cara kamu melihat dan menikmati proses pencapaian.

Pertanyaannya adalah mengapa kamu merasa perlu menderita untuk meraih kesuksesan? Apakah setiap langkah harus dipenuhi oleh rasa sakit? Terkadang, semangat untuk meraih kesuksesan terkesan sangat memaksa dan tekanan ini yang sebenarnya dapat merugikan dirimu.

Untuk itu penting untuk mengerti dan memahami ‘No Pain, No Gain’ yang sebenarnya agar gak terjadi tiga miskonsepsi yang bikin kamu tersiksa ketika ingin meraih sesuatu hal.

Baca Juga: 7 Proses yang Tidak Akan Berhenti dalam Hidup, Apa Saja?

1. Rasa sakit dan hidup bahagia sering dianggap sejalan

ilustrasi pria menangis (pexels.com/a-darmel)

Setiap orang akan selalu mengejar kebahagiaan dalam hidupnya sehingga untuk mewujudkannya terkadang harus melalu tahapan yang gak mudah. Memang benar.

Tetapi, apakah itu menjadi lebih bermakna ketika kamu harus selalu fokus pada rasa sakitnya dibanding dengan prosesnya? Faktanya, kamu tetap bisa menemukan tujuan pribadi dan menjalani kehidupan yang lebih bermanfaat tanpa harus tersakiti.

Kebahagiaan sejati itu justru datang dari menghargai kesenangan dalam hidup walau sekecil apa pun itu. Menciptakan perasaan tenang dan bebas dari rasa takut, serta mengambil langkah-langkah penting menuju kebahagiaan yang sejati. Sebab, hubungan yang baik adalah kunci agar kamu bisa berumur panjang dan merasa bahagia. Bukannya prestasi, ketenaran, banyak uang dan hal lain yang sering disalah artikan sebagai syarat hidup bahagia.

2. Inginnya produktif, tapi etos kerja malah jadi menurun

ilustrasi menggunakan laptop (unsplash.com/thoughtcatalog)

Kamu percaya bahwa harus selalu ada rasa sakit dalam berusaha. Hal ini yang pada akhirnya akan membuat etos kerja menjadi menurun. Sebab bagaimana kamu bisa bekerja dengan maksimal jika yang kamu rasakan hanya perasaan tertekan dan kesulitan? Ini semua akan jadi bias karena bekerja atau pun memperjuangkan sesuatu memang butuh usaha maksimal, tetapi tak selamanya harus selalu menyakitkan.

Banyak yang bilang bahwa kesuksesan berbanding lurus dengan jumlah usaha dan kesulitan yang dialami. Sehingga, ketika kamu menghadapi banyak sekali tantangan dan ujian itu adalah hal yang wajar. Padahal ini semua bisa diminimalisir terutama jika kamu mau memperhatikan kesejahteraan fisik dan mental di mana fokus ini seringkali teralihkan karena tingginya beban kerja dan tekanan yang dihadapi. Padahal gak ada hubungannya sama sekali antara tertekan dengan kesuksesan.

Baca Juga: 5 Tanda Kamu Berusaha untuk Mempercepat Proses Hidupmu 

Verified Writer

It's Me, Sire

A dusk chaser who loves to shout in the silence..

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya