TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Oposisi: Pengertian, Konsep, dan Fungsinya

Ungkapan yang selalu muncul saat debat

ilustrasi debat pemimpin (unsplash.com/ Evangeline Shaw)

Indonesia mulai masuk dalam pesta demokrasi. Seperti yang diketahui, pada Februari 2024 akan digelar pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakil presiden. Selama pesta demokrasi ini, banyak digunakan istilah politik yang belum familiar di telinga masyarakat.

Salah satunya adalah istilah oposisi yang tengah ramai digunakan. Secara singkat, oposisi adalah pihak lawan dalam sebuah partai politik. Dalam dunia politik, adanya pihak penentang atau lawan merupakan hal yang lumrah. Pihak lawan memiliki peran untuk mengkritik dan meluruskan kesalahan-kesalahan pihak otoritas yang berkuasa.

Selain istilah oposisi, ada pula istilah koalisi yang berarti pihak kawan. Kali ini akan dibahas seputar istilah oposisi, mulai dari pengertian, fungsi, konsep, hingga macam-macam istilah oposisi. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

1. Pengertian oposisi

ilustrasi oposisi (pexels.com/werner Pfenning)

Taukah kamu, secara etimologi, istilah oposisi berasal dari bahasa Inggris yaitu  opposition yang berarti membantah dan menyanggah. Namun, secara terminologi, istilah ini memiliki makna golongan atau partai yang menentang politik pemerintahan yang sedang berjalan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian oposisi merupakan sebuah partai penentang yang mengkritik suatu pendapat atau kebijakan politik dari suatu golongan yang berkuasa. Sehingga, istilah oposisi ini juga bisa didefinisikan sebagai setiap ucapan atau perbuatan yang meluruskan sebuah kekeliruan.

2. Konsep oposisi

ilustrasi oposisi (pexels.com/ Mikhail Nilov )

Setelah memahami pengertian istilah oposisi dalam dunia politik, berikut adalah berbagai macam konsep oposisi yang perlu diketahui:

1. Oposisi Seremonial

Oposisi seremonial ini merupakan penyanggahan yang mencerminkan sikap seremoni. Istilah seremonial dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat resmi dan formal. Adanya oposisi seremonial berarti sesuatu yang dibentuk untuk kepentingan formalitas saja.

2. Oposisi Destruktif-Oportunis

Berbeda dengan konsep oposisi sebelumnya, oposisi yang satu ini justru bertujuan untuk merusak imej atau citra dari pemerintah. Sesuai namanya, destruktif berarti merusak sedangkan oportunis adalah seseorang yang hanya mengambil keuntungan untuk diri sendiri.

Dengan kata lain, konsep oposisi destruktif-oportunis adalah pihak yang akan mengkritisi atau menyanggah semua kebijakan dari pemerintah atau pihak lawan yang bertujuan untuk merusak imej atau menyalahkan pemerintah.

3. Oposisi Fundamental Ideologis

Konsep oposisi ini cenderung lebih nekat dari dua konsep sebelumnya. Jika dua konsep sebelumnya berusaha untuk menyanggah atau mengkritisi pihak lawan, oposisi fundamental ideologis berusaha untuk menggulingkan pemerintah untuk mendapatkan kekuasaan. Lebih parah, oposisi ini juga tak segan-segan untuk mengganti semua sistem parlemen hingga dasar negara.

4. Oposisi Demokratis

Konsep oposisi demokratis merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap oposisi seremonial yang hanya muncul untuk formalitas saja. Pasalnya, oposisi seremonial cenderung menciptakan oposisi radikal yang dapat menghancurkan pondasi dari demokrasi.

Orang-orang yang berada di pihak oposisi ini akan memberikan kritik kepada pemerintah jika kebijakan pemerintah dinilai tidak layak bagi masyarakat. Namun, konsep oposisi ini memiliki sisi positif, di mana rakyat tetap mampu melihat pencapaian dari pemerintah saat ini.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya