Trump Usul Selat Hormuz Berganti Nama Jadi Selat Trump

- Donald Trump mengusulkan Selat Hormuz diganti menjadi Selat Trump, dengan klaim jalur strategis itu kini sepenuhnya dikuasai AS; Gedung Putih turut mengunggah peta memakai nama tersebut.
- Usulan muncul di tengah konflik dengan Iran yang menutup selat, mengurangi lalu lintas kapal, serta memicu serangan dan balasan militer di sejumlah negara kawasan.
- AS mengklaim ekspor minyak kawasan melampaui level praperang melalui optimalisasi pipa Saudi-UEA, sementara usulan ini melanjutkan deretan perubahan nama geografis oleh Trump.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump lewat unggahan Truth Social pada Rabu (2/9/2026). Ia menyampaikan usulan tersebut dengan alasan jalur perairan strategis itu kini berada di bawah kendali penuh AS.
Trump juga menyebut jalur perairan itu bakal jadi lebih panas dari sebelumnya, layaknya AS, serta berterima kasih atas perhatian publik terhadap isu ini.
“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali U.S.A., haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP??? Seperti Amerika sendiri, itu akan 'lebih panas' dari sebelumnya! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini. Presiden DONALD J. TRUMP,” tulis Trump.
Dilansir France 24, Gedung Putih kemudian mengunggah peta kawasan Teluk yang menampilkan jalur tersebut dengan nama Selat Trump. Unggahan itu disertai komentar Gedung Putih bahwa nama tersebut terdengar bagus.
1. Iran kehilangan kendali atas Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Usulan Trump disampaikan saat dirinya dan pemerintah AS mengklaim Iran telah kehilangan kendali atas Selat Hormuz. Jalur perairan sempit tersebut sebelumnya ditutup oleh pihak Iran sebagai respons atas konflik yang diprakarsai AS bersama Israel.
Sebelum konflik pecah pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz merupakan perlintasan bagi seperlima perdagangan minyak dunia. Saat ini, jumlah kapal yang melintas masih jauh di bawah kondisi normal dan terus menurun seiring berlanjutnya aksi militer di kawasan.
Pasukan AS kembali melancarkan serangan di dekat selat tersebut sebagai balasan atas langkah Iran yang menurut Trump mencoba memasang ranjau baru. Pihak Iran menyatakan salah satu serangan AS menewaskan empat orang di sebuah acara pernikahan dan mengecamnya sebagai kejahatan perang. Setelah itu, Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS di Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, dan Irak.
2. Ekspor minyak kawasan tetap mengalir

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.) Pemerintah AS mengklaim total ekspor minyak dari kawasan tersebut saat ini justru melampaui tingkat sebelum perang. Kondisi ini terjadi setelah jalur pipa di Arab Saudi dan UEA dimaksimalkan untuk menghindari lintasan Selat Hormuz.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut lebih dari 17 juta barel minyak melintasi selat tersebut pada Senin lalu, mencatatkan rekor baru selama masa perang. Sebelum konflik dimulai, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk olahannya melintasi jalur tersebut setiap hari.
Di sisi lain, Trump berulang kali mengutarakan niatnya untuk mengklaim kedaulatan atas Selat Hormuz. Ia bahkan sempat mengunggah peta yang menandai jalur perairan internasional tersebut sebagai wilayah baru milik AS.
3. Trump memperluas klaim nama geografis

Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons) Rencana perubahan nama Selat Hormuz menambah panjang daftar langkah Trump dalam mengubah nama wilayah geografis sejak kembali menjabat. Pada hari pertamanya di Gedung Putih pada Januari 2025, ia menetapkan Teluk Meksiko sebagai Teluk Amerika. Selain itu, ia juga mengembalikan nama puncak tertinggi Amerika Utara dari Denali menjadi Mount McKinley.
Sepekan sebelum usulan perubahan nama Selat Hormuz, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika di tengah ketegangan hubungan dengan Kanada. Perintah itu menugaskan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum beserta jajarannya untuk memperbarui Sistem Informasi Nama Geografis AS, dilaporkan CNBC.
Pemerintah Kanada dan Meksiko menolak keras perubahan nama geografis tersebut. Meski ditolak Kanada, platform Google dan Apple terpantau sudah memperbarui peta digital mereka.
Trump juga gencar menyematkan namanya pada sejumlah fasilitas dan program, mulai dari pusat seni Kennedy di Washington, lembaga perdamaian, kartu imigrasi Trump Gold Card, hingga situs penjualan obat Trump Rx. Selain itu, Departemen Keuangan AS menerbitkan koin 1 dolar AS bergambar wajah Trump untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan AS. Langkah ini dilakukan meski menabrak hukum federal yang melarang wajah presiden yang masih hidup muncul di mata uang.





![[QUIZ] Di Umur Berapa Kamu akan Kaya Raya? Cari Tahu di Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20240715/austin-distel-vvacrva56fc-unsplash-da57c56c5776d1a35ab60d3b63cfcb1b.jpg)















