Makan Bergizi Gratis Dikhawatirkan Tidak Tepat Sasaran

Anggaran untuk Makan Bergizi Gratis Rp71 triliun pada 2025

Intinya Sih...

  • Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintahan Prabowo-Gibran menuai kritik dari CELIOS terkait dampak dan sasaran program tersebut.
  • Kekhawatiran keberlanjutan program MBG setelah 2025 muncul karena anggaran yang ditetapkan hanya Rp71 triliun, belum jelas sasarannya, dan potensi ketergantungan pada pendapatan pajak yang stagnan.
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani enggan memberikan rincian penggunaan anggaran untuk program MBG, namun menegaskan tujuannya adalah menciptakan SDM Indonesia yang unggul.

Jakarta, IDN Times - Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang bakal dijalankan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mulai tahun depan.

Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar mempertanyakan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut kepada masyarakat Indonesia. Askar pun khawatir jika nantinya program MBG tersebut jadi tidak tepat sasaran seperti program pemerintah lainnya.

"Kita belum tahu bagaimana simulasi dan skenario dampak kebijakan itu. Jangan sampai subsidi yang sudah tidak tepat sasaran bergeser ke makan bergizi gratis yang juga tidak tepat sasaran," ucap Askar dalam Biweekly Brief CELIOS, Senin (19/8/2024).

1. Belum ada banyak informasi tentang program MBG

Makan Bergizi Gratis Dikhawatirkan Tidak Tepat SasaranPrabowo Subianto meninjau program makan siang gratis di salah satu sekolah di China (dok. Gerindra)

Adapun sampai saat ini, pihak Prabowo-Gibran masih belum memberikan lebih banyak informasi tentang program MBG itu sehingga kekhawatiran tidak tepat sasaran pun mengemuka.

"Kita belum tahu apakah itu diterima oleh semua anak atau hanya anak dari keluarga tidak mampu dan siapa pengelola program tersebut. Sampai hari ini juga belum clear. Kemungkinan nanti akan diatur dalam revisi RAPBN," ujar Askar.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Bakal Dimulai 2 Januari

2. Nasib keberlanjutan program MBG

Makan Bergizi Gratis Dikhawatirkan Tidak Tepat SasaranWakil Presiden terpilih periode 2024-2029, Gibran Rakabuming Raka saat uji coba makan bergizi gratis di Kabupaten Bogor, Jawa Barat (dok. IDN Times/Istimewa)

Askar juga menyampaikan kekhawatiran terhadap keberlanjutan program MBG setelah 2025 nanti. Rasa khawatir itu muncul mengingat anggaran program MBG pada 2025 hanya ditetapkan sebesar Rp71 triliun di dalam RAPBN.

"Bagaimana keberlanjutan pembiayaan program tersebut pasca 2025 karena kalau bergantung dari ruang fiskal kita hari ini ya mampunya hanya segini sebetulnya Rp71 triliun dianggarkan ya. Kita bisa bayangkan kalau seandainya tidak terjadi peningkatan pendapatan dari pajak, diversifikasi pajak yang juga progresnya lemah," tutur Askar.

"Ya otomatis di tahun 2026 mungkin anggarannya juga dalam tanda kutip ya bisa dibilang belum ada gitu ya dan ini juga perlu ditanyakan kepada pengambil kebijakan," sambung dia.

Baca Juga: Menu Makan Bergizi Gratis Berbeda Tiap Daerah, Ini Bocorannya

3. Program MBG terus disempurnakan tim Prabowo-Gibran

Makan Bergizi Gratis Dikhawatirkan Tidak Tepat SasaranMenteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menghadiri pertemuan ketiga Menkeu dan Gubernur Bank Sentral negara G20 (Finance Ministers and Central Bank Governors/FMCBG) di Rio De Janeiro, Brasil pada 25-26 Juli 2024. (dok. Kemenkeu)

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati masih enggan menjelaskan lebih lanjut tentang rincian penggunaan anggaran untuk program MBG tersebut.

"Untuk program prioritas presiden terpilih, Makan Bergizi Gratis yang Rp71 triliun sudah ada di sini. Nanti akan dijelaskan oleh tim dari Makan Bergizi Gratis," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers RAPBN 2025 di Gedung DJP, Jakarta, Jumat (16/8/2024).

Sri Mulyani menambahkan, segala rincian mengenai program tersebut masih terus disempurnakan oleh tim MBG sehingga dirinya tidak berkapasitas untuk menjelaskan lebih lanjut.

Namun, Sri Mulyani menegaskan bahwa tujuan dari program tersebut adalah untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul.

"Tujuannya adalah untuk menciptakan anak yang cerdas, tapi juga multiplier ekonomi di lokal juga ditekankan," kata dia.

Topik:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya