Jakarta, IDN Times - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mencatatkan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Hingga kuartal III 2026, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun atau tumbuh 3,5 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun hingga Kuartal III 2026

Telkom membukukan pendapatan konsolidasi Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026, naik 3,5 persen YoY; EBITDA mencapai Rp55,5 triliun dan laba bersih normalisasi Rp16,5 triliun.
Segmen B2C meraih Rp81,6 triliun, didorong bisnis digital Telkomsel Rp60,7 triliun dan IndiHome dengan 9,63 juta pelanggan; segmen B2B serta internasional juga tumbuh.
Telkom melanjutkan strategi TLKM 30 dengan menata 14 entitas, belanja modal Rp15,7 triliun, serta mengonsolidasikan lebih dari 90 persen aset jaringan ke InfraNexia.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh bisnis Data, Internet & IT Services yang meningkat 8,3 persen YoY menjadi Rp71,5 triliun. Dari sisi profitabilitas, EBITDA Telkom mencapai Rp55,5 triliun atau naik 2 persen YoY. Sementara itu, laba bersih normalisasi meningkat 3,9 persen YoY menjadi Rp16,5 triliun.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan perusahaan terus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30 dengan berfokus pada penguatan bisnis inti dan fundamental perusahaan untuk jangka panjang.
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan,” ujar Nanang dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).
1. Bisnis seluler dan digital dorong pertumbuhan segmen B2C

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno. (dok. Telkom) Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband membukukan pendapatan sebesar Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen YoY. Salah satu pendorongnya berasal dari Telkomsel yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan 1,8 persen YoY menjadi Rp82,9 triliun.
Bisnis digital Telkomsel menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp60,7 triliun, meningkat 7,7 persen YoY. Kinerja ini turut didukung strategi pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, dan penguatan monetisasi layanan seluler.
Hasilnya, rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) Telkomsel meningkat 7,1 persen YoY menjadi Rp45.400. Sementara itu, data yield juga tumbuh 6,5 persen YoY.
Di sisi layanan internet rumah, IndiHome mencatatkan pendapatan Rp19,1 triliun. Jumlah pelanggannya meningkat 1,2 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) menjadi 9,63 juta pelanggan pada kuartal III 2026. ARPU IndiHome juga naik 3,2 persen QoQ menjadi Rp217.700.
2. Empat segmen bisnis Telkom catatkan pertumbuhan positif

Salah satu implementasi pilar transformasi TLKM 30 unlock value, rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026. (dok. Telkom) Selain B2C, tiga segmen bisnis lainnya juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan eksternal meningkat 5,5 persen YoY menjadi Rp7,1 triliun. Pertumbuhan ini didukung layanan pusat data (data center), konektivitas, dan penyewaan infrastruktur.
NeutraDC, misalnya, membukukan pendapatan Rp1,39 triliun hingga September 2026 atau tumbuh 17 persen YoY. EBITDA perusahaan juga meningkat 35 persen YoY dengan margin EBITDA mencapai 40,9 persen. Kinerja ini didukung kontribusi pusat data di Singapura dan Cikarang, serta meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui layanan Neutra Compute.
Pada segmen B2B ICT, pendapatan tercatat sebesar Rp11,2 triliun atau meningkat 3,1 persen YoY. Segmen usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi salah satu penggerak utama dengan pertumbuhan pendapatan 10,2 persen YoY menjadi Rp3,3 triliun. Jumlah pelanggan Indibiz juga meningkat 10,9 persen YoY menjadi 771,1 ribu pelanggan.
Sementara itu, segmen International membukukan pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 5,8 persen YoY. Salah satu pendorongnya adalah pendapatan jaringan yang meningkat 50,2 persen YoY menjadi Rp1,37 triliun, seiring penguatan konektivitas internasional bagi perusahaan teknologi global dan operator jaringan.
Telin juga terus memperluas jaringan internasional melalui pengembangan kabel laut. Salah satunya proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026, serta proyek INSICA yang ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026. Pengembangan ini turut mendukung penguatan Batam sebagai hub kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas pusat data NeutraDC.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” tambah Nanang.
3. Telkom lanjutkan transformasi TLKM 30 melalui penataan portofolio

TelkomGroup berkomitmen untuk terus menyediakan wadah bagi putra putri terbaik Indonesia dalam mengembangkan karier bersama Telkom demi mengakselerasi digitalisasi (dok. Telkom) Di tengah pertumbuhan bisnis, Telkom juga melanjutkan transformasi melalui strategi TLKM 30. Strategi ini memiliki empat pilar utama, yaitu Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Salah satu fokusnya adalah penataan portofolio perusahaan atau streamlining. Hingga kuartal III 2026, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas yang terdiri dari divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas.
Selain itu, TelkomGroup merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen. Sebanyak 94,3 persen dari belanja modal tersebut dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperkuat kapabilitas konektivitas digital.
Tonggak lainnya adalah penyelesaian pemisahan aset dan bisnis konektivitas serat optik grosir (wholesale fiber connectivity) ke InfraNexia pada 30 September 2026. Melalui langkah ini, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan dengan model bisnis carrier-neutral dan open-access.
Model tersebut memungkinkan pemanfaatan infrastruktur jaringan secara lebih optimal sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.
“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile, serta semakin fokus pada bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Nanang.
Ke depan, TelkomGroup akan melanjutkan penguatan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan. Perusahaan juga optimistis dapat menjaga kinerja hingga akhir 2026 seiring berlanjutnya transformasi dan pengembangan bisnis digital. (WEB)












![[QUIZ] Dari Hobi Kak Ros Upin & Ipin, Ini Ide Bisnis yang Cocok buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260605/1000015303_08eeceec-948c-41d5-b90f-1a0d319b372d.jpg)







